1. Pengertian dan contoh Isymam, Tasyhil, Naql, dan Saktah.
Pengertian dan contoh Isymam
Isymam ( الْإِِشْمَامُ )
dalam arti bahasa berarti monyong atau mecucu. Sedangkan dalam arti istilah
ulama’ Qurra’ adalah mengkombinasikan harakah fathah dengan harakat dhammah
disertai monyong bibirnya. Bacaan isymam dalam al-Qur’an ditandai dengan
tulisan إِشْمَامُ kecil yang
berada di atas lafadh yang dibaca isymam. Menurut Imam Hafash bacaan isymam
hanya berlaku disatu tempat, yaitu QS. Yusuf ayat 11:
اشمام
قَالُوْا يَٓااَبَانَامَالَكَ
لَاتَأْمَنَّــــــاعَلٰى يُوْسُفَ وَاِنَّا لَهٗ لَنَاصِحُوْنَ
Pada lafal تَأْمَنَّـا cara
membacanya adalah sebagai berikut :
·
Nun tasydid
diuraikan sehingga menjadi dua nun: yang satu mati (sukun) sedang yang lain
hidup (fathah). Misalnya lafadh : لَاتَأْمَنْنَا
·
Nun mati
pertama sebagai tempat bacaan isymam, sehingga melafadkan nun itu (لَاتَأْمَنْ) , kedua bibir dimonyongkan ke depan
sebagaimana melafadkan huruf nun (melalui asmaul huruf).
·
Menarik bibir
yang monyong tersebut sambil mengucapkan nun kedua, sehingga lengkap menjadi : لَاتَأْمَنْنَا
2.
Pengertian dan contoh Imalah
Imalah ( الْإِِمَالَةُ )
dalam arti bahasa berarti condong atau miring. Sedangkan menurut istilah adalah
mencondongkan bacaan harakat fathah pada harakat kasrah sekitar dua pertiganya.
Dalam Mushaf Utsmani yang digunakan oleh umat Islam Indonesia, bacaan imalah
ini ditandai dengan tulisan (إِمَالَةٌ )
kecil diatas lafadh yang dibaca imalah.
Bacaan imalah dibagi menjadi dua macam yaitu:
·
Imalah Shughra ( الْإِِمَالَةُ الصُّغْرٰى )
adalah setelah bacaan imalah tersebut masih diwashalkan pada lafadh lain,
sehingga tidak berhenti disitu saja. Menurut Imam Hafash, bacaan imalah hanya
pada QS. Huud ayat 41, selainnya tidak ada. Karenanya beliau hanya menyatakan
satu imalah dalam al-Qur’an sehingga tidak ada pembagian imalah. Ayat yang
dimaksud adalah :
·
Pada
lafad مَجْرٰ ىهَا maka cara membacanya Majreha.
وَقَالَ ارْكَبُوْا
فِيْهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرٰ امالة ىهَا وَمُرْسَاهَا
·
Imalah Kubra ( الْإِِمَالَةُ الكُبْرٰى ) adalah
setelah bacaan imalah tersebut diwakafkan sehingga berhenti disitu saja.
Kriteria imalah kubra adalah semua lafadh dalam al-Qur’an yang akhirannya
terdapat Alif Maqsurah (alif bengkong). Pendapat ini dikemukakan oleh Imam
Warasy misalnya pada lafadh:
اَحْوٰى
Dibaca Ahwe,
وَاتَّقٰى Dibaca Wattaqe
اِسْتَغْنٰى Dibaca Istaghne,
فَتَرْضٰى Dibaca Fatardhe
Namun terdapat
pengecualian yaitu khusus bagi nama manusia yang akhirannya terdapat alif
maqsurah, tetap dibaca apa adanya tidak boleh dibaca imalah. Misalnya:
عِيْسٰى , مُوْسٰى , يَحْيٰى , مُصْطَفٰى
3. Pengertian dan contoh Tasyhil
Tas-hil ( تَسْهِيْلٌ ) mempunyai akar kata سَهُلَ yang artinya
mudah. Adapun yang dimaksud bacaan tashil menurut ulama Qurra’ adalah upaya
memindahkan bacaan ayat-ayat al-Quran dengan cara memindahkan harakat atau
membuang huruf tertentu. Tujuannya adalah agar lafadh tersebut tidak sukar
diucapkan.
Contoh pada QS. Fushilat ayat 44:
وَلَوْجَعَلْنَاهُ قُرْاٰنًا اَعْجَمِيًّا
لَقَالُوْالَوْلاَفُصِّلَتْ اٰيٰتُهُ ءَاَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ
Letak Tashil pada lafadh ءَاَعْجَمِيٌّ , karena membaca pada dua hamzah itu
sulit, maka hamzah yang satu dibaca tashil dengan hamzah yang kedua, sehingga
kedua hamzah itu cukup dibaca satu saja dengan memanjangkannya (dibaca mad).
Jadilah cara membacanya menjadi : اٰعْجَمِيٌّ
Menurut imam Hafash lafadh: ءَاَعْجَمِيّ dapat dibaca dua versi. Pertama, dibaca sebagaimana di
atas, sedangkan yang kedua boleh dibaca dengan alif yang kedua agak condong
pada huruf ha’ walaupun tidak terlalu ditampakkan huruf ha’nya, yakni : ءَهْعْجَمِيٌّ
4. Pengertian dan contoh Naql
Naql ( النَّقْلُ )
berasal dari akar kata ( نَقَلَ ) yang artinya memindah. Sedangkan menurut istilah ulama Qurra’
adalah memindahkan harakat huruf yang hidup pada huruf yang mati sesudahnya.
Tujuan Naql dalam membaca al-Qur’an adalah
untuk mempermudah bacaannya. Karena dengan adanya bacaan naql ini, seorang
pembaca mudah melafadkan kalimat tertentu dan tanpa mengalami kesulitan karena
harakat hurufnya. Contoh :
·
Dalam QS.
Al-Hujarat ayat 11 tertulis:
بِئْسَ اْلاِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ
اْلاِيْمَانِ
Lafadh بِئْسَ اْلاِسْمُ selanjutnya dibaca naql dengan بِئْسَ لِسْمُ yakni memindahkan harakat alif (kasrah) pada huruf lam
yang mati.
·
Dapat pula
berlaku di akhir lafadh dengan syarat lafadh itu harus diwakafkan (berhenti),
sebab jika diwashalkan maka tidak dapat dibaca naql.
Contoh: QS.
Aali Imran, ayat 18:
اَنَّهُ لَٓااِلٰهَ اِلَّاهُوَوَاْلمَلَٓائِكَةُ
وَاُولُواْالعِلْمِ قَائِمًا بِاْلقِسْطِ
Letak Naql
adalah pada lafadh بِاْلقِسْطِ jika diwakafkan maka boleh dibaca naql
dengan بِاْلقِسِطْ memindah harakat kasrah huruf tha pada sin yang
disukun.
QS. Al-‘Arof
ayat 158:
لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَاْلاَرْضِۚ
لَآاِلٰهَ اِلَّاهُوَ يُحْيٖى وَيُمِيْتُ
Letak Naql
adalah lafadh الاَرْضِ jika diwakafkan, maka boleh dibaca naql
dengan الاَرِضْ yaitu memindah harakat kasrah huruf dhad pada
huruf ra’ yang mati. Walaupun demikian, tidak semua lafadh boleh dibaca naql
bila diwakafkan, yaitu lafadh yang huruf sebelum akhir berupa huruf mad atau
huruf lien misalnya:
QS. Al-‘Araf ayat 158 وَيُمِيْتُ tidak boleh
dibaca وَيُمِيُتْ
QS. Al-‘Araf ayat 85 شُعَيْبًا tidak boleh dibaca شُعَيَبْـا
QS. Bani Israil ayat 61 اِلَّااِبْلِيْسَ tidak boleh dibaca
ْاِلَّااِبْلِيِس
5. Pengertian dan contoh Saktah
Saktah سَكْتَةٌ mempunyai akar kata سَكَتَ yang artinya
diam atau berhenti. Sedangkan dalam arti istilah adalah berhenti sejenak tanpa
nafas sekitar satu alif lamanya. Bacaan saktah dalam Mushaf Ustmani yang
berlaku diberi tanda سَكْتَةٌ kecil diantara dua
lafadh yang dibaca saktah. Namun untuk mushaf lain barangkali dijumpai tanda
saktah dengan huruf س kecil di antara
dua lafadh yang dibaca saktah.
Menurut Imam Hafash, bacaan saktah dalam
al-Qur’an yang berlaku hanya ada 4 tempat. Meskipun nantinya pada tempat lain
terdapat tanda saktah, namun tanda itu tidak berfungsi sebagai petunjuk bacaan
saktah. Karenanya pembaca harus hati-hati dalam memutuskan bacaannya.
Adapun tempat yang diperbolehkan menggunakan saktah
adalah sebagai berikut :
·
QS. Al-Kahfi ayat 2 :
عِوَاجًا سكتة قَيِّمًا
·
QS. Yaa Siin :ayat 52 : مَرْقَادِنَا سكتة هٰذَا
·
QS. Al Qiyamah ayat 27 : مَنْ سكتة رَاقٍ
·
QS. Al-Muthaffifin ayat 14 : بَلْ سكتة رَانَ
Sedangkan lafadh yang tidak
diperbolehkan menggunakan saktah. Walaupun terdapat tanda saktah, adalah
sebagai berikut :
·
QS. Al-A’rf ayat 23: رَبَّنَا ظَلَمْنَا سكتة اَنْفُسَنَا
·
QS. Al-A’raf ayat 184: اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا سكتة مَابِصَاحِبِهِمْ
·
QS. Yusuf ayat 29:
عَنْ هٰذَا سكتة وَاسْتَغْفِرِى
·
QS. Al-Qashash ayat 23: يَصْدِرَالرِّعَاءُ سكتة وَاَبُوْنَا