Kamis, 02 Juli 2020

Pengertian dan contoh Isymam, Tasyhil, Naql, dan Saktah.

1. Pengertian dan contoh Isymam, Tasyhil, Naql, dan Saktah.                                                 

   

         Pengertian dan contoh Isymam

Isymam ( الْإِِشْمَامُ ) dalam arti bahasa berarti monyong atau mecucu. Sedangkan dalam arti istilah ulama’ Qurra’ adalah mengkombinasikan harakah fathah dengan harakat dhammah disertai monyong bibirnya. Bacaan isymam dalam al-Qur’an ditandai dengan tulisan إِشْمَامُ kecil yang berada di atas lafadh yang dibaca isymam. Menurut Imam Hafash bacaan isymam hanya berlaku disatu tempat, yaitu QS. Yusuf  ayat 11:

اشمام                                 
قَالُوْا يَٓااَبَانَامَالَكَ لَاتَأْمَنَّــــــاعَلٰى يُوْسُفَ وَاِنَّا لَهٗ لَنَاصِحُوْنَ

Pada lafal تَأْمَنَّـا  cara membacanya adalah sebagai berikut :

·         Nun tasydid diuraikan sehingga menjadi dua nun: yang satu mati (sukun) sedang yang lain hidup (fathah). Misalnya lafadh : لَاتَأْمَنْنَا

·         Nun mati pertama sebagai tempat bacaan isymam, sehingga melafadkan nun itu (لَاتَأْمَنْ) , kedua bibir dimonyongkan ke depan sebagaimana melafadkan huruf nun (melalui asmaul huruf).

·         Menarik bibir yang monyong tersebut sambil mengucapkan nun kedua, sehingga lengkap menjadi : لَاتَأْمَنْنَا

2.      Pengertian dan contoh Imalah

Imalah ( الْإِِمَالَةُ ) dalam arti bahasa berarti condong atau miring. Sedangkan menurut istilah adalah mencondongkan bacaan harakat fathah pada harakat kasrah sekitar dua pertiganya. Dalam Mushaf Utsmani yang digunakan oleh umat Islam Indonesia, bacaan imalah ini ditandai dengan tulisan (إِمَالَةٌ ) kecil diatas lafadh yang dibaca imalah.

Bacaan imalah dibagi menjadi dua macam yaitu:

·         Imalah Shughra ( الْإِِمَالَةُ الصُّغْرٰى ) adalah setelah bacaan imalah tersebut masih diwashalkan pada lafadh lain, sehingga tidak berhenti disitu saja. Menurut Imam Hafash, bacaan imalah hanya pada QS. Huud ayat 41, selainnya tidak ada. Karenanya beliau hanya menyatakan satu imalah dalam al-Qur’an sehingga tidak ada pembagian imalah. Ayat yang dimaksud adalah :

·         Pada lafad مَجْرٰ ىهَا  maka cara membacanya Majreha.

وَقَالَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرٰ امالة ىهَا وَمُرْسَاهَا

·         Imalah Kubra ( الْإِِمَالَةُ الكُبْرٰى ) adalah setelah bacaan imalah tersebut diwakafkan sehingga berhenti disitu saja. Kriteria imalah kubra adalah semua lafadh dalam al-Qur’an yang akhirannya terdapat Alif Maqsurah (alif bengkong). Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Warasy misalnya pada lafadh:

اَحْوٰى   Dibaca Ahwe,         وَاتَّقٰى  Dibaca Wattaqe

اِسْتَغْنٰى  Dibaca Istaghne,    فَتَرْضٰى  Dibaca Fatardhe

Namun terdapat pengecualian yaitu khusus bagi nama manusia yang akhirannya terdapat alif maqsurah, tetap dibaca apa adanya tidak boleh dibaca imalah. Misalnya:
عِيْسٰى , مُوْسٰى , يَحْيٰى , مُصْطَفٰى

3.      Pengertian dan contoh Tasyhil

Tas-hil ( تَسْهِيْلٌ ) mempunyai akar kata سَهُلَ yang artinya mudah. Adapun yang dimaksud bacaan tashil menurut ulama Qurra’ adalah upaya memindahkan bacaan ayat-ayat al-Quran dengan cara memindahkan harakat atau membuang huruf tertentu. Tujuannya adalah agar lafadh tersebut tidak sukar diucapkan.

Contoh pada QS. Fushilat ayat 44:

                                            
وَلَوْجَعَلْنَاهُ قُرْاٰنًا اَعْجَمِيًّا لَقَالُوْالَوْلاَفُصِّلَتْ اٰيٰتُهُ ءَاَعْجَمِيٌّ
وَعَرَبِيٌّ

Letak Tashil pada lafadh ءَاَعْجَمِيٌّ , karena membaca pada dua hamzah itu sulit, maka hamzah yang satu dibaca tashil dengan hamzah yang kedua, sehingga kedua hamzah itu cukup dibaca satu saja dengan memanjangkannya (dibaca mad). Jadilah cara membacanya menjadi : اٰعْجَمِيٌّ

Menurut imam Hafash lafadh: ءَاَعْجَمِيّ  dapat dibaca dua versi. Pertama, dibaca sebagaimana di atas, sedangkan yang kedua boleh dibaca dengan alif yang kedua agak condong pada huruf ha’ walaupun tidak terlalu ditampakkan huruf ha’nya, yakni : ءَهْعْجَمِيٌّ

4.      Pengertian dan contoh Naql

Naql ( النَّقْلُ ) berasal dari akar kata ( نَقَلَ ) yang artinya memindah. Sedangkan menurut istilah ulama Qurra’ adalah memindahkan harakat huruf yang hidup pada huruf yang mati sesudahnya.

Tujuan Naql dalam membaca al-Qur’an adalah untuk mempermudah bacaannya. Karena dengan adanya bacaan naql ini, seorang pembaca mudah melafadkan kalimat tertentu dan tanpa mengalami kesulitan karena harakat hurufnya. Contoh :

·         Dalam QS. Al-Hujarat ayat 11 tertulis:


بِئْسَ اْلاِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ اْلاِيْمَانِ

Lafadh بِئْسَ اْلاِسْمُ  selanjutnya dibaca naql dengan بِئْسَ لِسْمُ  yakni memindahkan harakat alif (kasrah) pada huruf lam yang mati.

·         Dapat pula berlaku di akhir lafadh dengan syarat lafadh itu harus diwakafkan (berhenti), sebab jika diwashalkan maka tidak dapat dibaca naql.

Contoh: QS. Aali Imran, ayat 18:


اَنَّهُ لَٓااِلٰهَ اِلَّاهُوَوَاْلمَلَٓائِكَةُ وَاُولُواْالعِلْمِ قَائِمًا بِاْلقِسْطِ

Letak Naql adalah pada lafadh بِاْلقِسْطِ jika diwakafkan maka boleh dibaca naql dengan بِاْلقِسِطْ memindah harakat kasrah huruf tha pada sin yang disukun.

QS. Al-‘Arof ayat 158:


لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَاْلاَرْضِۚ لَآاِلٰهَ اِلَّاهُوَ يُحْيٖى وَيُمِيْتُ

Letak Naql adalah lafadh الاَرْضِ jika diwakafkan, maka boleh dibaca naql dengan الاَرِضْ yaitu memindah harakat kasrah huruf dhad pada huruf ra’ yang mati. Walaupun demikian, tidak semua lafadh boleh dibaca naql bila diwakafkan, yaitu lafadh yang huruf sebelum akhir berupa huruf mad atau huruf lien misalnya:
QS. Al-‘Araf ayat 158 وَيُمِيْتُ  tidak boleh dibaca وَيُمِيُتْ
QS. Al-‘Araf ayat 85 شُعَيْبًا  tidak boleh dibaca شُعَيَبْـا
QS. Bani Israil ayat 61 اِلَّااِبْلِيْسَ  tidak boleh dibaca  ْاِلَّااِبْلِيِس

5.      Pengertian dan contoh Saktah

Saktah سَكْتَةٌ  mempunyai akar kata سَكَتَ yang artinya diam atau berhenti. Sedangkan dalam arti istilah adalah berhenti sejenak tanpa nafas sekitar satu alif lamanya. Bacaan saktah dalam Mushaf Ustmani yang berlaku diberi tanda سَكْتَةٌ  kecil diantara dua lafadh yang dibaca saktah. Namun untuk mushaf lain barangkali dijumpai tanda saktah dengan huruf س  kecil di antara dua lafadh yang dibaca saktah.

Menurut Imam Hafash, bacaan saktah dalam al-Qur’an yang berlaku hanya ada 4 tempat. Meskipun nantinya pada tempat lain terdapat tanda saktah, namun tanda itu tidak berfungsi sebagai petunjuk bacaan saktah. Karenanya pembaca harus hati-hati dalam memutuskan bacaannya.

Adapun tempat yang diperbolehkan menggunakan saktah adalah sebagai berikut :

·         QS. Al-Kahfi ayat 2 :      عِوَاجًا سكتة قَيِّمًا

·         QS. Yaa Siin :ayat 52 :    مَرْقَادِنَا سكتة هٰذَا

·         QS. Al Qiyamah ayat 27 :    مَنْ سكتة رَاقٍ

·         QS. Al-Muthaffifin ayat 14 :  بَلْ سكتة رَانَ

Sedangkan lafadh yang tidak diperbolehkan menggunakan saktah. Walaupun terdapat tanda saktah, adalah sebagai berikut :

·         QS. Al-A’rf ayat 23:      رَبَّنَا ظَلَمْنَا سكتة اَنْفُسَنَا

·         QS. Al-A’raf ayat 184:   اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا سكتة مَابِصَاحِبِهِمْ

·         QS. Yusuf ayat 29:        عَنْ هٰذَا سكتة وَاسْتَغْفِرِى

·         QS. Al-Qashash ayat 23: يَصْدِرَالرِّعَاءُ سكتة وَاَبُوْنَا




Pengertian dan contoh Idgam Bigunnah, Idgam Bilagunnah, Ikhfa, Izhar Syafa Saktah, Imalah dan Isymam

Idgam Bigunnah, Idgam Bilagunnah, Ikhfa, Izhar Syafa Saktah, Imalah dan Isymam

 

*      Idgam Bigunnah : Hukum Idgham Bighunnah dan ini sering sekali disebut dengan Idgham Ma’al Ghunnah yaitu suatu hukum tajwid yang berlaku ketika ada Nun mati / nun disukun [نْ ] atau  tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ) yang bertemu dengan huruf Mim [م], Nun [ن], Waw [و], dan huruf Ya [ي] dan tidak dalam satu kata / kalimat atau harus secara terpisah.

 

Û    Surah Yasin ayat 20:

وَجَآءَ مِنْ أَقْصَا ٱلْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ

Û    Surah Yasin ayat 21:

ٱتَّبِعُوا۟ مَن لَّا يَسْـَٔلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ

Û    Surah Yasin ayat 23:

 ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدْنِ

Û    Surah Yasin ayat 24:

إِنِّىٓ إِذًا لَّفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Û    Surah Yasin ayat 54:

فَٱلْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Û    Surah An Nur ayat 35:

ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ

Û    Surah Al Kahfi ayat 5:

مَّا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِءَابَآئِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ ۚ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

Û    Surah Al Kahfi ayat 10:

إِذْ أَوَى ٱلْفِتْيَةُ إِلَى ٱلْكَهْفِ فَقَالُوا۟ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Û    Surah Yusuf ayat 12:

أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Û    Surah Yasin ayat 50:

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَآ أله أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

 

*      Idham Bilagunnah : Apabila ada nun sukun dan tanwin bertemu dengan salah satu huruf lamل) ) dan ra' (ر) maka hukum bacaannya adalah idghom bila ghunnah(إدغام بلاغنًة) yang membacanya dengan cara memasukkan dengan tanpa mendengung. 

 

Û    Surah Yasin Ayat 21:

ٱتَّبِعُوا۟ مَن لَّا يَسْـَٔلُكُمْ

Û    Surah Yasin ayat 23:

ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدْنِ ٱلرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّى شَفَٰعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَلَا يُنقِذُونِ

Û    Surah Yasin ayat 24:

إِنِّىٓ إِذًا لَّفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Û    Surah Al Kahfi Ayat 2:

قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا

Û    Surah Al Kahfi Ayat 6:

فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَسَفًا

 

*      Ikhfa : menyamarkan nun sukun atau tanwin karena timbul suara dengung apabila bertemu dengan huruf ikhfa yang lima belas. Huruf ikhfa yang lima belas, yaitu : (ت, ث, ج, د, ذ, ز, س, ش, ص,ض, ط, ظ, ف, ق, ك)

 

Û    Surah Yasin Ayat 19:

بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

Û  Surah Yasin ayat 23:

مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدْنِ ٱلرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنونَ

Û    Surah Yasin ayat 51:

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ ٱلْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ

Û    Surah An Nur ayat 35:

نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ

Û    Surah Al Kahfi ayat 4:

وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًا

 

*      Izhar Syafawi : Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain huruf mim (مْ) dan ba (ب), maka cara membacanya dengan jelas di bibir dan mulut tertutup.

Û    Surah Yasin ayat 50:

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَآ أله أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

Û    Surah Yasin ayat 53:

إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَٰحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُ

Û    Surah Al Kahfi Ayat 1:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَٰبَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُۥ عِوَجَا ۜ

Û    Surah Al Kahfi Ayat 2:

قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

Û    Surah Al Kahfi Ayat 7:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

 

*      Saktah : memutus kata sambil menahan nafas dengan niat meneruskan bacaan. Ketika ada saktah, kita berhenti sejenak kira-kira ukuran 2 harokat tanpa mengampil nafas dan bacaannya disambungkan.

 

Û    Surah Yasin ayat 52:

قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ

Û    Surah Al Kahfi Ayat 1:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَٰبَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُۥ عِوَجَا ۜ

Û    Surah Al Muthaffifin ayat 14:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

*      Imalah : mencondongkan bacaan harakat fathah pada harakat kasrah sekitar dua pertiganya. Yang mana Ra menjadi Re.

Û  Surah Hud ayat 41:

وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيم

 

*      Isymam : mengkombinasikan harakat fathah dengan harakat dammah.

Û    Surah Yusuf ayat 11:

قَالُوا۟ يَٰٓأَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَ۫نَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُۥ لَنَٰصِحُونَ


Pengertian dan contoh Isymam, Tasyhil, Naql, dan Saktah.

1.   Pengertian dan contoh Isymam, Tasyhil, Naql, dan Saktah.                                                                 Pengertian dan...